THE LANGUAGE YOU LOSE
Oxymoron merupakan salah satu ungkapan yang merujuk pada penggunaan dua kata atau lebih yang digabungkan dan bersifat kontradiktif, kemudian kata gabungan tersebut melahirkan arti yang berbeda dan bisa terdengar sangat dalam. Berbeda dengan frase, oxymoron biasa dianggap sebagai alat akrobatik bahasa yang seringnya digunakan di dunia sastra, seperti film, puisi ataupun musik.
Contoh: simply complicated, sound of silence, open secret, seriously funny, working holiday, same difference, kesepakatan sepihak, sedikit banyak, pendapat objektif, perbedaan seragam, etc, you name it.
Erlend Øye and Eirik Glambek Bøe yang tergabung dalam duo indie-folk asal Norway, Kings of Convenience, membalut hampir seluruh album dan judul lagu-lagu mereka dengan oxymoron yang bisa dibilang sangat menakjubkan, dan jenius. Sebutlah album “Declaration of Dependence” dan “Riot on an Empty Street”. Salah satu track favorit saya pribadi “Freedom and Its Owner” menjadi pintu perkenalan saya dengan konsep oxymoron itu sendiri.
Tom Hanks di filmnya “Extremely Loud & Incredibly Close” juga sempat bermain tentang oxymoron dengan anaknya (di film tersebut) yang pada akhirnya membuat saya semakin mengagumi bapak yang sering bermain dengan karakter-karakter yang edukatif itu.
Oxymoron bisa menjadi sangat indah jika berada di tangan orang yang tepat. Sastra yang puitis atau karya-karya yang jenius tak jarang lahir melalui pintu-pintu yang dibangun dari oxymoron. Namun sebaliknya, di beberapa titik penggunaan oxymoron bisa menjadi sangat negatif. Beberapa orang sering menggunakan oxymoron untuk hal-hal yang merugikan, seperti pembelaan diri bagi yang sudah jelas-jelas salah. Terkadang oxymoron malah bisa menunjukkan kebodohan bagi para penggunanya.
Dewasa ini pemakaian bahasa berkembang, meluas, khususnya di kalangan anak-anak sekolah dan remaja. Sebutlah “anjay” yang sudah tidak asing lagi kita dengar sehari-hari baik secara langsung di kehidupan nyata atau social media. Sampai-sampai vocab “anjay” digunakan sebagai bumbu manis lirik lagu oleh salah satu youtuber yang mulai menjarah dunia musik. Manusia dengan influence yang sudah cukup besar seperti itu seharusnya memikirkan sebab akibat dari apa yang bakal dia lempar ke khalayak umum. If you think you want to be recognized as a good thing, at least you do it in a good way.
Beberapa kasus penggunaan bahasa di atas hanyalah sebatas contoh kecil bahwa peran bahasa di dunia ini cukuplah penting. Sebenarnya kita bisa mengedukasi diri dengan lebih peka terhadap hal-hal di sekitar, mencoba mencari tahu lebih dalam. Memulai membaca buku, atau sekedar mempertajam filter apa yang masuk dan keluar dari diri kita. Menurut saya kasus “anjay” mungkin masih bisa ditolelir. Sampai beberapa hari yang lalu saya sempat berdiskusi dengan teman tentang satu kosakata yang belakangan ini sangat ngetrend, karena mungkin terdengar lucu dan menggemaskan saat diucapkan, apalagi jika dikeluarkan dari mulut dari kaum hawa.

Super sad.