GREEN, GREEN GRASS
Tak jarang kita mendengar orang-orang di sekitar mengucapkan “rumput tetangga selalu lebih hijau”, yang selalu bisa diartikan sebagai kurangnya rasa bersyukur terhadap apa yang dimiliki. Apa yang dimiliki orang lain memang sering terlihat lebih. Lebih bagus, lebih besar, lebih wow. Padahal hal tersebut sebenarnya hanya persoalan pola pikir, mindset, dan kita bisa mengubah pola pikir itu. Bukan berniat sombong, tetapi agar kita tidak terus-terusan merasa kurang atas apa yang kita miliki, semacam menghibur diri. Dan, pada dasarnya mindset tersebut bisa kita ubah, seperti “Rumput tetangga memang lebih hijau, tapi gua gak pengen rumput hijau, gua maunya pavling.” Okay, it sounds naive somehow but hey, we need to control our mind cause we’re the king of ourself though—halah.
Saya sering menemui banyak hal yang bersifat paradoks di jaman sekarang. Hal yang bisa saja bersifat benar tapi bertentangan dengan pandangan umum masyarakat. Dan sekali lagi saya katakan, sebenarnya hal tersebut hanya permainan pola pikir. Nilai benar dan salah di kehidupan sosial akhirnya tergantikan oleh mayoritas dan minoritas. Sesuatu hal bisa dianggap benar dari perspektik dua pihak tersebut. “Begini” bisa menjadi benar bagi para-mayoritas, tapi tidak untuk pihak yang berlawanan. Yang pada akhirnya pemikiran-pemikiran benar dan salah berubah menjadi pilihan setiap individu. Individu A bisa gabung ke pihak mayoritas atau minoritas. Individu A ingin rumput hijau atau pavling, tergantung kebutuhan individu itu sendiri.
Menghormati diri sendiri bisa dimulai dengan berhenti melihat keadaan orang lain, tetapi lebih fokus pada diri sendiri, tapi jugga tidak berarti menjadi egois. Biarlah orang mempunyai rumput yang hijau, karena kita tidak selalu membutuhkan rumput hijau juga. Kalau memang kita menginginkan rumput hijau, lebih baik kita fokus menghijaukan rumput kita sendiri, dari pada terus-terusan membandingkan rumput kita dengan rumput orang lain.