EFEK RUMAH KACA – SINESTESIA

Beberapa waktu yang lalu, di penghujung tahun 2015 Efek Rumah Kaca akhirnya mengeluarkan album baru bertajuk Sinestesia. Penantian selama kurang lebih tujuh tahun sejak mereka merilis album kedua Kamar Gelap di tahun 2008 akhirnya terbayarkan di album ketiganya kali ini. Sepintas Sinestesia seperti mini album, karena hanya berisi enam lagu di dalamnya. Namun, jika dikilik lebih jauh, ternyata Sinestesia tidak hanya sesimple album dengan enam lagu, tetapi lebih dari itu, ada detail tambahan yang bisa kita nikmati. Merupakan format baru, yaitu dari setiap track di dalam album ini terdapat gabungan beberapa lagu yang dipadukan dan akhirnya menjadikan setiap track di dalam Sinestesia berdurasi lebih panjang daripada lagu kebanyakan. Bak sebuah buku yang dirilis dengan ketebalan ekstra. Keunikan lain, setiap singlenya bertajuk kompilasi warna yang menggambarkan ekspresi perasaan dari masing-masing single. Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih, Kuning. Entah apapun alasan ERK menjadikan album ketiganya seperti ini, saya rasa format ini cukup brilian.

Di waktu menjelang dirilisnya album ini, ERK lebih dulu melemparkan sebuah single, Pasar Bisa Diciptakan, yang juga menjadi tema dari konser-konser menuju rilisnya album tersebut. Dan pada tanggal 13 Januari merupakan hari di mana konser utama Efek Rumah Kaca dengan tajuk Konser Sinenstesia, Pasar Bisa Dikonserkan, diadakan di Teater Besar – Taman Ismail Marzuki. Cukup ramai apresiasi dari penikmat setia Efek Rumah Kaca, terbukti dengan tiket terjual habis, bahkan banyak yang tidak kebagian karena memang konser diadakan dengan quota yang cukup terbatas.

Efek Rumah Kaca yang kurang lebih sudah sembilan tahun berkecimpung di garis independen kancah musik Indonesia, jika kita hitung dari pertama kali mereka merilis album pertama dan 15 tahun sejak terbentuknya band ini, selalu menghasilkan karya musik dengan lirik-lirik sosial yang dalam. Seperti karya puisi yang dipak dalam sebuah alunan musik. Begitupun pada album Sinestesia, enam lagu di dalamnya tak luput dari teriakan lirik dalam yang menggambarkan beberapa mood atau perasaan yang berbeda, seperti pada tajuk warna di setiap single. Sesuai dengan tujuan awal album ini, Sinestesia berarti situasi atau aura tertentu, misalkan putih, atau merah, yang bisa kita anggap sebagai gambaran ketika kita sedang mendengarkan suatu lagu.

1. Merah

Sinestesia - Merah

Berisi tiga lagu berjudul Ilmu Politik, Lara Di mana-mana, Ada-ada Saja yang diaransemen menjadi satu track pembuka Sinestesia. Menggambarkan kemarahan terhadap kekacauan politik. Kita akan langsung tahu jika kita mendengar langsung lagu ini, di menit-menit pertama  sampai akhir Efek Rumah Kaca sangat berhasil menjelaskan baik dari lirik dan sound, sebuah bentuk demografi rasa kecewa dan marah terhadap politik. Berdurasi total 11.20 menit, dengan tone musik yang agresif. Berikut penggalan lirik dari Ilmu Politik “Dan kita arak mereka, Bandit jadi panglima, Politik terlalu amis, Dan kita, teramat necis. Lalu angkat mereka, Sampah jadi pemuka, Politik terlalu najis, Dan kita teramat klinis.

2. Biru

Sinestesia - Biru

Pasti kita sudah bisa membayangkan nuansa dari lagu ini dengat melihat judulnya. Single Pasar Bisa Diciptakan yang sudah diluncurkan sebelum Sinestesia resmi dirilis, mewakili track kedua di album ini, ditemani Cipta Bisa Dipasarkan. Dengan tone musik yang lebih progresif berdurasi 9.52 menit, Biru menggambarkan sebuah presepsi pemikiran tentang konsep idelogi atau kecintaan terhadap sesuatu yang “tidak bisa diatur”, cerita klise lawas di balik pasar musik meterialistis. Pertama kali mendengarkan Pasar Bisa Diciptakan, seolah-olah single ini menjadi obat rindu bagi para penggemar setianya, akhirnya, Efek Rumah Kaca kembali lagi. Banyak yang menjadikan Biru sebagai track favorit di album ini. Berikut potongan lirik Pasar Bisa Diciptakan “Kami mau yang lebih indah, Bukan hanya remah remah sepah, sudahlah. Kami hanya akan mencipta, Segala apa yang kami cinta, bahagia. Kami bawa yang membara, Di dasar jiwa, di dasar jiwa.

3. Jingga

Sinestesia - Jingga

Bagi para pengikut setia Efek Rumah Kaca, pasti akan merasa sedikit kaget setelah mengetahui konten dari Jingga ini. Single Hilang yang sudah lama dirilis untuk mengenang tragedi 1998, akhirnya dimasukkan ke dalam album mewakili track 3 di Sinestesia bersama sebuah lagu bertajuk Nyala Tak Terperi. Menggambarkan perasaan rindu dan kehilangan dan berdurasi cukup panjang yaitu 13.28 menit.

4. Hijau

Sinestesia - Hijau

Dilihat dari lirik dan musiknya, Hijau berusaha menjelaskan rasa kekecewaan dalam bentuk sarkasme. “Apa yang kau tawarkan, bukan pengetahuan, Ucapan miskin pemikiran. Apa yang kau sodorkan, hanyalah hasutan, Ujaran penuh kemunafikan, Keracunan omong kosong” merupakan penggalan dari lagu bertajuk Keracunan Omong Kosong, diikuti dengan lagu Cara Pengelolahan Sampah pada track 4 di Sinestesia. Efek Rumah Kaca memang selalu bisa memasukkan konsep sosial secara apik pada lagu-lagu mereka.

5. Putih

Sinestesia - Putih

Dari lirik sampai aransemen musik, lagu ini bisa menggetarkan bulu kuduk saat pertama kali didengarkan. Berisi dua lagu bertajuk Tiada (Untuk Adi Amir Zainun) dan Ada (Untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan semua harapan di masa depan). Cerita tentang kepergian kolega dekat dan harapan keluarga terhadap anak memang selalu bisa meluluhkan hati. Ditambah dengan musik yang sangat indah, Putih dengan durasi 9.46 menit berhasil menjadi track favorit bagi setiap pendengarnya.

6. Kuning

Sinestesia - Kuning

Bernuansa sendu, Kuning menjadi track penutup di album ini dengan cerita tentang kedekatan manusia terhadap Tuhannya. Dua lagu berjudul Beragamaan dan Beragaman mewakili konsep perbedaan cara pandang manusia terhadap penciptanya. Sayangnya, saat ini Efek Rumah Kaca sudah kembali vakum dikarenakan urusan dalam hal membagi waktu dengan keluarga. Akankah mereka segera kembali atau akhirnya menyudahi Efek Rumah Kaca? Yang pasti, mereka sudah memberikan karya yang bisa mengubah kita semua ke arah yang lebih baik.