LOCALFESTID, DRIED CASSAVA DAN THE TREES AND THE WILD

Untuk kedua kalinya di tahun 2016 ini, LocalFestID kembali diadakan di akhir minggu lalu (23-25 September) di Grand Indonesia, dengan mengusung tema LocalFestID 6.0. Sebelumnya pada April lalu LocalFestID 5.2 juga diadakan di Lotte Shopping Avenue. Saat ini sebenarnya cukup banyak acara semacam, festival creative dengan konten seperti food and beverage, fashion yang kebanyakan diisi oleh local product, dan tak ketinggalan juga band performance. Gue sendiri sebenarnya lebih tertarik untuk nonton band performanya doang, dan kebetulan pas di hari minggu kemarin ini ada Dried Cassava dan The Tress and The Wild.

LocalFest - 02

LocalFest - 04

LocalFest - 03

LocalFest - 01

Dried Cassava

Gue beberapa kali udah niat nonton Dried Cassava tapi selalu gagal. Sempet dulu mau nonton mereka di 6th Music Gallery, namun waktu itu gue salah liat jadwal dan ternyata waktu gue sampe venue mereka udah kelar manggung. Kemarin juga pas mereka ternyata main di WeTheFest, akhirnya gue gagal nonton karena suatu alasan. Daaan, pas gue tahu mereka bakal main di LocalFestID di Grand Indonesia, gue langsung dateng kesana.

Dried Cassava merupakan band indie-rock-blues-alternative asal Jakarta, terbentuk sejak 2005, saat ini sudah mempunyai dua album yaitu Mind Thieves yang dirilis tahun 2011 dan Sensitive Explosive di tahun 2013. Musik mereka cukup keren dan funky, lumayan gampang dimengerti. Salah satu lagu mereka di album Mind Thieves yang paling dikenal, yaitu Paradox selalu mereka bawakan saat mereka manggung. Gue juga tahu band ini dari lagu tersebut, karena memang ini lagu spesial sih. Baik dari lirik dan musiknya sendiri.

Di LocalFestID 6.0 kemarin gue dateng pas banget ketika mereka baru mau main. Sudah ada beberapa bro-bro di depan panggung. Dari format panggung LocalFestID kali ini ternyata kurang lebih masih sama seperti di LocalFestID Lotte Shopping Avenue dulu, langsung aja itu tempat paling depan yang sedikit longgar gue sosor. Alhasil gue ada di baris paling depan ketika para personelnya mulai masuk panggung, diikuti dorongan bro-bro dari belakang. Mereka tampil secara apik, kurang lebih delapan lagu mereka mainkan. Tak ketinggalan Paradox dan Set Sail yang merupakan lagu favorit gue —dan bro-bro semua sepertinya— juga dibawakan mereka kemarin. Pengalaman pertama nonton Dried Cassava ini bagi gue cukup memuaskan. Cuman sebenernya gue juga ngarep banget lagu-lagu slow mereka macam Manusia Beruang dan Menjual Kaum Hawa juga dimainkan. Mungkin lain waktu nanti jika mereka manggung lagi. We’ll see.

Dried Cassava - 02

Dried Cassava - 01

Dried Cassava - 03

The Trees and The Wild

Awalnya gue gak yakin apakah beneran gue akan nonton ini band, setelah mereka ngilang bertahun-tahun, setelah mereka ditinggal salah satu personelnya, setelah dulu di jaman kuliah gue bisanya nonton mereka di youtube doang, akhirnya, gue, nonton, The Trees and The Wild. Subhanalloh.

Perkenalan gue dengan The Trees and The Wild berawal dari majalah Rolling Stone Indonesia di tahun 2009, pada waktu itu ada artikel yang memuat tentang mereka, band ini digawangi Iga Massardi, Remedi Waloni dan Andra Kurniawan. Gue inget banget karena akhirnya artikelnya gue gunting dan gue tempel di kamar, sampai saat ini masih ada. Album pertama mereka Rasuk yang dirilis pada tahun 2009 juga akhirnya mampu membius gue pada waktu itu yang masih kuliah dan gak tahu banyak tentang band-band indie saat itu. TTATW pada waktu itu semacam replika dari Kings of Convenience, tapi contentnya baik musik dan lirik masih sangat indo. Single favorite gue The Noble Savage di album Rasuk sampai pernah gue jadiin ringtone di handphone. Single-single lainnya seperti Berlin, Irish Girl, Derau dan Kesalahan, Our Roots, Fight the Future, juga menjadi andalan mereka. Hampir semua lagu di album Rasuk ini menurut gue layak diacungi jempol. Dan sampai pada akhirnya, di tahun-tahun 2011 atau 2012 mereka mulai jarang muncul, kemudian disusul berita keluarnya Iga Massardi. Sampai saat ini yang gue tahu Iga keluar dikarenakan tujuan bermusik mereka sudah berbeda, dan Iga akhirnya membentuk Barasuara.

Beberapa bulan terakhir akhirnya The Trees and The Wild muncul kembali ke daratan social media, dengan membawa kabar tentang album baru mereka, Zaman, Zaman. Ada beberapa lagu yang mereka lempar terlebih dahulu sebelum Zaman, Zaman secara resmi dirilis. Tapi gue belum sempet dengerin versi yang itu, karena gue baru ngeh banget ketika TTATW mulai rame lagi pas Zaman, Zaman dirilis di pertengahan September kemarin.

Zaman, Zaman ternyata sangat jauh berbeda dengan Rasuk. Mungkin dikarenakan Iga yang sudah tidak ikut campur tangan di album kedua ini. Satu lagu pembuka berdurasi cukup panjang, sekitar 15 menit, yaitu Empati Tamako cukup membawa kita ke nuansa kegelapan, bising, emosional, noisy, shogaze juga kali ya.

Di LocalFestID 6.0 kemarin, The Trees and The Wild tampil dengan semua para personelnya menggunakan serba hitam, seperti cover album Zaman, Zaman yang bernuansa hitam, gelap. Satu panggung pada saat itu penuh dengan alat musik mereka. Dari yang gue liat di youtube sih biasanya Remedi hanya membawa satu gitar ke panggung. Saat mereka mulai memainkan satu persatu lagu mereka, gue langsung teringat musik-musik shoegaze macam My Bloody Valentine, atau kalau di Indo performa mereka di atas panggung hampir sama dengan The Milo atau My Violaine Morning, karena gue sempet nonton MVM di Bandung, suasanya mirip banget. Dari segi gaya juga si Remedi dan personil yang lain cenderung menikmati musik mereka sendiri, seperti band-band shoegaze kebanyakan yang saat mereka manggung selalu dengan kepala menunduk ke bawah. Penampilan The Trees and The Wild di LocalFest kemarin cukup memberi semangat gue untuk kembali menggemari mereka setelah sekian lama, dengan garis musik yang baru.

Satu hal unik yang gue rasain di LocalFestID kemarin, yaitu ketika para personel TTATW sudah mulai naik panggung, tiba-tiba banyak dede-dede gemez—dan bahkan dede-dede berhijab—langsung menyesaki sisi depan panggung. Setelah gue cari-cari di internet tentang hal itu, ternyata dede-dede lucu itu ingin nonton band bekas Iga Massardi, dimana Iga telah mengenalkan mereka ke musik indie melalui Barasuara. Gob bless!

TTATW - 01

TTATW - 02

TTATW - 03